Sabtu, 21 April 2012

Orang Dulu dan Orang Sekarang...

Dari sejak kecil, aku paling jengkel kalau Bapakku memperbandingkan antara generasiku dan generasi dulu. Misalnya soal kegiatan pramukaku saat SD dulu. Eh boro-boro bangga dengan keberhasilan anaknya jadi ketua regu dan memimpin regunya dalam kemenangan di berbagai event, doi malah bilang pramuka sekarang tidak ada apa-apanya dengan kepanduan zaman dulu. Dia bilang nyaris tidak ada terobosan dalam kepramukaan morse, semapor, dll adalah produk zaman dulu. Kepanduan zaman dulu lebih hebat, dan terbukti dalam sejarah melahirkan orang-orang besar. Grrrr....

Ketika beranjak remaja, prestasi di sekolah juga dipandang biasa oleh Bapak. Orang dulu mampu melakukan lebih baik, bahkan dalam kondisi serba sulit. Ke sekolah jalan kaki-lah, ga ada buku pelajaran-lah, dan berbagai macam kesulitan zaman dulu. Ubah dunia dengan prestasi atau beri kontribusi luar biasa ke masyarakat, baru itu yang disebut prestasi. Begitu kata Bapak dulu.

Terakhir, adalah diskusi-diskusi kecil sepanjang karir profesionalku. Seperti ketika seorang wartawan senior pernah menegur wartawan juniornya. "Jika detil aja lepas kayak gini, gimana bisa bikin karya jurnalistik yang bagus?" kata dia. Diskusi makin seru ketika contoh-contoh "orang dulu" dimajukan ada Gunawan Muhammad (pak GM-Tempo) dan atau Papi (HB Supiyo-SWA). Betapa orang dulu begitu menguasai persoalan dengan kedalaman yang luar biasa. Referensinya banyak. Dan itu semua membikin karya jurnalistik mereka begitu hebat. Sedangkan "orang sekarang"? Cuma jual tampang dan ngecap doang. Grrrrrr....gigi sampai gemeretak menahan marah.

Aku sempat berkilah waktu itu untuk membela generasiku. Fakta bahwa media telah menjadi industri-lah yang membawa pergeseran-pergeseran itu. Jika dulu orang bisa berlama-lama dengan idealismenya thok, sekarang tidak bisa lagi. Kecepatan menjadi kata kunci dari perubahan ini. Dan itu bikin keteteran. Kita berada dalam abad kecepatan yang menuntut kemampuan belajar paling tinggi sepanjang sejarah peradaban. Anda bisa bayangkan jika dulu untuk liputan investigasi bisa memakan waktu dalam hitungan bulan, saat ini semua harus dilakukan dalam hitungan hari.

Tentu saja bukan pembenaran. Tapi industrialisasi menghadapkan profesi ini pada dua pilihan : bertahan dalam idealisme atau mencoba mencari titik kompromi dengan logika pasar (baca:profit). Pilihan pertama bukannya tidak mungkin, bisa saja, tapi ada konsekuensinya. Perusahaan Anda harus benar-benar bernapas panjang. Tidak gampang melawan mainstream.  Dan bila pilihan kedua yang jadi pegangan, maka Anda juga harus memastikan tidak terjatuh dalam kepentingan jangka pendek. Anda harus bisa berselancar dalam riak pasar sambil menyisipkan idealisme Anda. Dan itu ga gampang. Sama-sama pilihan rumit.

"Untuk soal industri oke-lah. Tapi untuk soal detil dan kedalaman, nanti dulu. Orang sekarang begitu dimanjakan oleh kemajuan iptek. Orang dulu tidak." Begitu debat kolega senior. Untuk bikin naskah aja dulu perlu effort tinggi, wong pake mesin tik (yang aku sendiri udah ga mau pake sekarang).

Ya juga sih. Untuk hal-hal berbau data,informasi, dan knowledge, zaman ini menyajikan semuanya dengan cepat. Mungkin teman senior tadi benar, ujungnya di model mental kita sebagai profesional. Inilah yang bisa diperbandingkan dengan zaman dulu. Dan harus ku akui untuk soal ini orang-orang tua itu benar. Banyak dari mereka memang yang terbaik, dan banyak dari generasi sekarang belum mampu muncul untuk menandingi mereka.

Tapi nanti dulu.....aku masih ga terima generasi keju ini harus kalah dari generasi singkong. Kita lihat lah!!!!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar